Ketika mendapat kabar bahwa Bulik, adik almarhum Ibu, meninggal dunia karena tertabrak motor, tanggal 3 Maret lalu, ingatan segera kembali ke peristiwa 25 tahun silam. Pada tanggal 1 Maret 1994, Ibu meninggal setelah tertabrak motor yang pengendaranya mabuk. Keduanya meninggal karena mengalami pendarahan di otak. Keduanya ditabrak di lokasi yang nyaris sama, hanya bergeser sekitar empat meter; bedanya ibu ditabrak petang hari saat mahgrib setelah mengunjungi orang sakit, sedangkan bulik ditabrak pagi hari saat akan belanja sayuran.

Apakah sejarah selalu berulang? Philip Guedalla (1889-1944) yang dikenal sebagai sejarawan dan esais, seorang pop kultur asal Inggris, jauh tahun sudah menjawab pertanyaan itu. Sejarawan kelahiran  Maida Vale, London dari sebuah keluarga Yahudi keturunan  Spanyol ini mengatakan, “Sejarah berulang dengan sendirinya. Sejarawan saling mengulang satu sama lain.” Pepatah Perancis mengatakan, L’Histoire se Répète, sejarah mengulang dirinya sendiri. Adalah Keny Arkana, seorang rapper Perancis keturunan Argentina yang memberi judul lagunya L’Histoire se Répète.

Perempuan penyanyi yang lahir di Boulogne-Billancourt pada tahun 1982, dan menghabiskan masa kecilnya di Marseilles, sebuah kota pelabuhan di tepi Laut Mediterania, Perancis Selatan ini menegaskan yang dikatakan Philip Guedalla. Keny Arkana menggugat mengapa perang selalu berulang. Namun seruannya agar perang tidak ada perang, tidak ada yang mempedulikan. Padahal, perang menghancurkan segala-galanya. Tetapi, manusia tidak peduli. Dan, Keny Arkana “hanya” bisa mengatakan, “Dan sejarah berulang dengan sendirinya … Et l’histoire se répète.”

Santana, sebuah grup band rock—dengan gitaris Carlos Santana– pun dalam lagunya Oye 2014 memulai dengan pertanyaan, Who says history doesn’t repeat itself?Tetapi, untuk apa sejarah selalu mengulang dirinya sendiri? Penyanyi country AS, Buddy Starcher (1906-2001) dalam lagunya History Repeat Itself, mengisahkan peristiwa  aneh tapi nyata yang menegaskan bahwa “sejarah berulang dengan sendirinya.”

Buddy Starcher mengisahkan peristiwa yang terpisah 100 tahun.  Presiden AS Abraham Lincoln (1809-1865) terpilih menjadi presiden pada tahun 1860; dan 100 tahun kemudian, 1960, John F Kennedy terpilih menjadi presiden AS. Kedua presiden sangat peduli terhadap hak-hak sipil. Yang menarik, keduanya tewas ditembak pada kepala bagian belakang. Keduanya ditembak pada hari Jumat. Penembak Lincoln adalah John Wilkes Booth lahir pada tahun 1839; sementara penembak Kennedy, yakni Lee Harvey Oswald lahir pada tahun 1939. Keduanya adalah orang Selatan.

Wilkes Booth menembak Lincoln dari teater dan setelah menembak lari ke gudang. Sementara Harvey Oswald, menembak dari gudang dan setelah menembak lagi ke teater. Kata “Lincoln” dan “Kennedy” masing-masing terdiri atas tujuh huruf. Nama John Wilkes Booth dan  Lee Harvey Oswald, masing-masing terdiri atas 15 huruf.

Pengganti Lincoln dan Kennedy sama-sama bernama Johnson. Lincoln digantikan Andrew Johnson yang lahir pada tahun 1808; dan pengganti Kennedy adalah Lyndon Johnson yang lahir pada tahun 1908. Kelahiran mereka terpaut 100 tahun. Keduanya adalah dari Selatan, sama-sama Demokrat. Nama Andrew Johnson dan Lyndon Johnson sama-sama terdiri atas 13 huruf. Dan Buddy Starcher mengakhiri lagunya dengan “And friends, it is true; History does repeat itself; His truth is marching on.”

***

Apakah itu kebetulan atau memang “digariskan?” Jarak kedua kejadian terpisah 100 tahun. Satu abad! Karl Marx mengatakan, Histoire se répète toujours deux fois: la première fois comme tragédie, la deuxième fois comme farce; sejarah selalu mengulang dirinya sendiri: pertama sebagai tragedi, kedua sebagai lelucon. Dalam tragedi, menurut seorang penulis asal Inggris Christopher Fry (1907-2005), setiap momen adalah keabadian; dalam komedi, keabadian adalah sebuah momen.

Sekadar contoh bahwa pengulangan sejarah tidak selalu seperti  yang dikemukakan oleh Karl Marx: dari tragedi menjadi lelucon. Yang terjadi di Suriah, pengulangan sejarah itu dari tragedi ke  tragedi. Tidak ada lelucon-nya sama sekali. Mungkin leluconnya adalah kegilaan seperti itu kok diulang kembali. Seperti yang ditulis Tom Blanton, di Foreign Policy (21 September 2012) dengan  History Repeats Itself as Tragedy. Menurut Tom Blanton, yang dilakukan pasukan Bashar Assaad (pada tahun 2012) mengulangi yang dilakukan ayahnya, Hafez al Assad, mulai 2 Februari 1982.

Ketika itu, jet-jet tempur dan arteleri Hafez al Assad  menggempur kota Hama untuk menghabisi pemberontakan pimpinan Muslim Brotherhood (Persaudaraan Muslim). Menurut laporan Dinas Intelijen Pertahanan (Defense Intelligence Agency/DIA) AS, korban tewas akibat serangan jet-jet tempur dan arteleri itu mencapai 2.000 orang. Tetapi, pengamat independen yang mengunjungi Hama, serta laporan Komite Hak-hak Asasi Manusia  Suriah, menyebutkan korban tewas antara 20.000 sampai 40.000 orang. Jumlah korban tewas sebanyak itu, hanya selama bulan Februari saja.

Sementara, jumlah korban tewas akibat perang saudara (waktu itu, masih perang saudara) di Suriah selama 18 bulan hingga tahun 2012, mencapai 30,000 orang. Data itu diungkapkan oleh  Centre for Documentation of Violations di Suriah dan Komisioner Tinggi urusan Pengungsi PBB. Bulan Agustus  2012 adalah bulan paling berdarah hingga saat itu. Pada bulan itu, jumlah korban tewas lebih dari 5.000 orang. Sebagian besar yang tewas adalah penduduk sipil; jumlah orang bersenjata yang tewas di kedua belah pihak mencapai sekitar 3.000 orang. Hingga tahun 2018, jumlah korban tewas dalam perang di Suriah sejak 2011, mencapai  total 500.000 orang. Sepanjang tahun 2018 saja, korban tewas tercatat 20.000 orang. Tahun 2017, tercatat sekitar 33.400 orang tewas menurut The Syrian Observatory on Human Rights.

Tragedi yang dialami bangsa Palestina juga menegaskan pengulangan sejarah itu dari tragedi ke tragedi.  Saat pecah perang pada tahun 1948, yang berujung dengan lahirnya negara Israel, ratusan orang Palestina diusir dari kampung halaman mereka. Inilah gelombang pertama pengungsi Palestina. Tragedi yang sama terulang lagi pada setelah pecah Perang Enam Hari 1967, ketika tentara  Israel menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jerusalem Timur. Inilah gelombang pengungsian kedua. Dan, pada tahun 2002, di bawah Ariel Sharon, tentara Israel menciptakan gtelombang ketiga pengungsi Palestina dengan menyerang kamp-kamp pengungsi. Orang ingat, 20 tahun sebelumnya, 1982, Sharon memimpin penyerangan kamp pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila, Beirut yang diduduki Israel.

***

Matahari (Istimewa)

Ketika orang mengatakan bahwa sejarah berulang dengan sendirinya, mereka umumnya memikirkan pola yang luas. Cara lain untuk menggambarkan pola atau hubungan ini adalah dengan menggambarkannya sebagai hubungan sebab dan akibat. Mereka berpikir tentang keberadaan dan kelanjutan.

Akan tetapi, Barry Turner dari Universitas Lincoln, Inggris berpendapat bahwa sejarah tidak mengulang dirinya sendiri. Karena sejarah bukan serangkaian peristiwa yang berurutan, melainkan sebuah rangkaian. Barry memberitakan contoh bahwa PD II adalah kelanjutan dari PD I; kedua perang besar itu bukan peristiwa yang terpisah tetapi sebagai episode dari suatu cerita. Dari tahun 1918 hingga 1939 bukan kedamaian melainkan gencatan senjata.

Pendapat Barry Turner tak jauh dengan pendapat Mark Twain. Petualang kondang–nama aslinya Samuel Langhorne Clemens—yang menulis novel klasik Amerika, The Adventures of Tom Sawyer dan juga Adventures of Huckleberry Finn ini  mengatakan,  “Sejarah tidak terulang, tetapi itu berima.” Mark Twain pula yang mengatakan bahwa Palestina adalah negeri kecil yang memiliki sejarah besar.

Para sejarawan percaya bahwa hampir setiap perkembangan di zaman moderen ini memiliki padanan di masa lalu, bahkan naik turunnya kekaisaran dan diktator, perang dan konflik politik, faktor sosial-ekonomi yang mengarah ke revolusi, genosida dan persekusi ras serta persekusi agama hanyalah kejadian yang berulang di seluruh waktu. Namun, pendapat itu memunculkan pertanyaan: Jika sejarah berulang, bukankah kita tidak bisa membuat prediksi tentang masa depan?

Bukankah Sang Pengkhotbah sudah mengatakan, nihil sub sole novum, tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Sesuatu yang pernah ada, itulah yang akan ada lagi. Sesuatu yang telah diperbuat, itulah yang akan diperbuat lagi. Tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Barang yang sudah ada itu juga akan yang aka nada; dan barang yang sudah diperbuat itu juga yang akan diperbuat; satupun tiada yang baru di bawah langit ini. Apa yang pernah terjadi, akan terjadi lagi. Apa yang pernah dilakukan, akan dilakukan lagi. Tidak ada sesuatu yang baru di dunia ini.

Apakah “sejarah juga akan mengulang dirinya sendiri” di Indonesia, saat ini? Yang pasti, pertarungan untuk menjadi presiden Indonesia, mengulangi pertarungan Pemilu 2014 yakni antara Jokowi dan Prabowo. Pada tahun itu, Jokowi yang memperoleh mandat rakyat untuk menjadi presiden Indonesia.

Kemenangan Jokowi pada waktu itu telah memutus rantai kekuasaan politik dari para politisi masa lalu. Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945, hingga sebelum tahun 2014, hanya anggota elite politik dan militer yang terpilih sebagai presiden.  Jokowi adalah pemimpin pertama dari luar dua golongan tersebut yang terpilih sebagai orang nomor satu di Indonesia. Kemenangan Jokowi pada tahun 2014 telah memberikan pesan jelas bahwa sekarang ini siapa pun bisa menjadi presiden. Bahkan seorang tukang kayu, penjual mebel yang pernah tinggal di bantaran sungai pun bisa menjadi presiden, kalau rakyat pencinta damai, persatuan dan kerukunan, persaudaraan, keragaman Indonesia, toleran, dan yang menginginkan Indonesia maju serta tetap utuh menginginkannya. 

Orang kemudian bisa mengatakan, inilah demokrasi menurut Abraham Lincoln. Lincoln mengatakan demokrasi adalah government of the people, by thepeople, and for the people, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.  Memang, ada banyak definisi tentang demokrasi. Akan tetapi, ada tiga elemen pokok dari demokrasi yang bisa dikatakan sama yakni, pertama adanya kompetisi dan pemilihan yang fair atas jabatan publik dan dilakaukan secara teratur tanpa penggunaan kekerasan; kedua, warga negara berpartisipasi dalam menyeleksi pemimpin; dan ketiga, adanya kebebasan sipil dan politik dalam melakukan persaingan politik dalam berpartisipasi.

Dan, sulit dipungkiri bahwa pencapaian Jokowi pada tahun 2014 bukan prestasi yang bisa dianggap biasa. Pencapaian itu sebuah sejarah bukan hanya bagi Jokowi, tetapi juga bangsa Indonesia.

Meskipun menurut profesor sejarah Amerika Latin dan direktur Institut Studi Sejarah pada Universitas Texas di Autin, Seth Garfield (2001), “Sejarah penting, bukan karena sejarah mengulang dirinya sendiri, tetapi karena narasinya dapat menghilangkan setan yang menyiksa orang yang tertindas, mengejutkan orang yang berpuas diri dan tidak patuh lalu melakukan mawas diri, dan mengilhami untuk berprestasi bagi orang yang memiliki ketekunan dan kemauan.”

Dalam rumusan lain  Victor Hugo (1802-1885), pujangga, novelis, dan dramawan Perancis mengatakan, “Apakah sejarah itu? Pengulangan masa lalu di masa depan; refleksi dari masa depan pada masa lalu.” Et l’histoire se répèteseperti dinyanyikan oleh Keny Arkana; seperti pula yang dialami bulik mengulangi yang dialami ibu. ***