Religion confusion

Suatu hari, Sang Guru berdoa. Melihat guru berdoa, para murid datang, mendekatinya dan berlutut di depannya. Seorang di antara murid berkata: ”Guru, ajarilah kami berdoa.”

Guru menjawab, ”Kalau kalian berdoa, berdoalah demikian.”
Ya Tuhan, berikanlah kepada kami seorang pemimpin yang mendapatkan anugerah keadilan, kebenaran, kerendahan hati, dan kebijaksanaan dari Engkau; yang sadar mengenai tugas yang Engkau berikan, dengan takut dan gentar;
yang berani berperang melawan radikalisme,
korupsi, kekerasan, penindasan, ketidakadilan,
nafsu diri, dan nafsu angkara murka;
seorang pemimpin yang mengasihi
sesamanya bukan malah mengancam-ngancam;
seorang pemimpin yang melindungi mereka yang lemah,
tertindas, yang terpinggirkan, yang tidak mampu bersuara,
dan yang membutuhkannya;
pemimpin yang jujur, rela berkorban, yang mementingkan
rakyat dibanding keluarganya sendiri, kelompoknya,
dan golongannya sendiri;
tetapi, Tuhan…terjadilah kehendakMu
di bumi ini seperti di dalam surga….

Para murid diam. Mereka mendengarkan doa Sang Guru. Lalu, ikut berdoa di dalam hati. Semua bersimpuh. Menundukkan kepala. Mengarahkan hati dan pikiran. Menutup mata agar tidak menyaksikan pemandangan yang membangkitkan amarah, memancing meledaknya emosi, mendorong mulut untuk melemparkan sumpah serapah, melabuhkan kebencian di hati, dan menciptakan kemarahan di otak. Menutup telinga agar tidak kemasukan suara-suara yang justru membuat doa tak ada artinya dan tidak sampai ke haribaan Tuhan.

Bukankah doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan. Satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik. Karena itu, doa tidak dilambungkan dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah. Melainkan dari dasar jurang  hati yang rendah dan penuh sesal. De profundis clamavi ad te, Domine: Dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan…. Kerendahan hati adalah dasar doa, karena ”kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa.”  Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Tuhan, manusia adalah seorang pengemis.

Sekarang, memang, sudah tiba saatnya semua orang beriman berdoa. Berdoa merupakan suatu bagian penting bagi orang beriman. Tanpa doa iman akan lemah tanpa daya, kering, dan tidak berbobot, tapi dengan berdoa iman dikuatkan, diteguhkan, ditopang hingga kokoh kuat tak tergoyahkan.

Baca juga:
Kisah Napoleon
”Guernica y Luno”

Berdoa (Istimewa)


Berdoa memohon pemimpin yang rendah hati, bijaksana, yang membela kebenaran, dan menjunjung tinggi keadilan. Karena, bukankah tidak seorang pun, yang masih memiliki kewarasan pikiran, memiliki akal sehat menginginkan pemimpin yang tidak menegakkan keadilan, dan tidak menjunjung tinggi kebenaran.

Bukankah tidak seorang pun yang masih mencintai negeri ini menginginkan seorang pemimpin  yang membiarkan radikalisme menjadi-jadi sehingga memecah-belah bangsa, menghancurkan persatuan dan kesatuan, menghancurkan bangunan toleransi. Bukankah tidak ada satu orang pun di negeri ini yang mendambakan seorang pemimpin yang akan membiarkan korupsi semakin tumbuh bagaikan jamur di musim hujan.

Dalam bahasa Francis Fukuyama (2018), tidak ada pula yang menginginkan seorang pemimpin yang bisa dimasukkan dalam golongan pemimpin yang megalothymia. Kata ”megalos” dalam bahasa Yunani berarti besar dan ”thymia” mengacu pada kata Yunani lainnya, yakni ”thymos”. Thymos adalah salah satu dari tiga konsep filosofi yang diperkenalkan oleh Platon. Dua lainnya adalah  ”kebutuhan” dan ”hasrat”.

Dan, thymos berarti keinginan emosional setiap orang untuk diakui oleh orang lain sebagai manusia, dan dihormati. Dengan demikian, megalothymia berarti, keinginan untuk diakui sebagai superior. Lebih hebat, dibanding yang lain! Ini berbeda, bahkan bukan hanya berbeda, melainkan berlawan arti dengan isothymia, keinginan untuk diakui sama dengan orang lain.

Megalothymia tumbuh dengan luar biasa: mengambil risiko besar, terlibat dalam perjuangan monumental, mencari efek besar, karena semua ini mengarah pada pengakuan diri sebagai yang lebih unggul daripada orang lain. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, megalothymia bisa menghasilkan pemimpin heroik, seperti Abraham Lincoln (1809-1865) presiden ke-16 AS (1861-1865), yang dikenal telah menghapus perbudakan di Amerika serta mempertahankan persatuan bangsa.

Abraham Lincoln (Istimewa)

Tokoh lainnya adalah atau Winston Churchill Lincoln (1874-1965) tokoh politik, perdana menteri Inggris pada masa PD II, ahli strategi perang, orator, diplomat, penerima Hadiah Nobel Sastra (1953), dan tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dunia yang oleh BBC pada tahun 2002 dinobatkan sebagai ”The Greatest Briton”; Nelson Mandela (1918-2013) menjadi presiden berkulit hitam pertama di Afrika Selatan pada tahun 1994, simbol perdamaian global, yang memenangi Hadiah Nobel Perdamaian 1993, aktivis anti-apartheid yang memilih jalan damai, politisi, dan filantropis.

Namun, yang banyak terjadi dalam kasus lain, megalothymia bisa menghasilkan seorang tiran, seperti Julius Caesar, atau Adolf Hitler, Saddam Hussein, atau Mao Zedong, untuk menyebut dari begitu banyak tiran di dunia ini. Caesar Julius Caesar (100-44 SM) dianggap sebagai tiran karena  mengubah cara Roma memerintah. Konsul tidak lagi dipilih, ia tetap berkuasa dan memilih konsul sendiri. Meskipun Caesar adalah seorang jenderal hebat yang memenangkan banyak pertempuran penting, tetapi menggunakan ketenarannya di dalam Kekaisaran Romawi untuk membuatnya sangat kuat dan memiliki banyak teman berpengaruh di Senat. Caesar menggunakan ini untuk mendapatkan kekuatan untuk dirinya sendiri, yang membuatnya memiliki banyak musuh.

Hitler (1889- 1945) juga dimasukkan dalam golongan tiran. Tangannya berlumuran darah jutaan orang yang terbunuh dalam kehancuran PD II dan kengerian holocaust. Kebijakan luar negeri Hitler yang agresif dianggap sebagai penyebab utama pecahnya PD II di Eropa. Kebijakan antisemit-nya dan ideologi yang bermotivasi rasial mengakibatkan kematian setidaknya 5,5 juta orang Yahudi, dan jutaan orang lainnya dianggap lebih rendah secara rasial.

Hugo Chavez (Istimewa)

Fukuyama menyarankan, untuk menjaga terciptanya harmoni dan agar orang dapat hidup dalam harmoni, isothymia-lah yang harus dipilih, bukannya megalothymia. Dengan isothymia, kebutuhan orang untuk diakui sebagai manusia yang sejajar satu sama lain, terpenuhi. Ada kesetaraan sesama manusia. Dalam konteks Indonesia sangatlah jelas: seluruh warga negara—di negeri yang plural, majemuk, bineka dalam banyak hal ini—memiliki hak dan kewajiban yang sama, juga di depan hukum.

Mengapa? Sebab, manusia memiliki kodrat dan asal-usul yang sama, memiliki kesetaraan dasariah. Kesetaraan tersebut harus semakin diakui. Oleh karena itu, segala bentuk diskriminasi yang menyangkut hak-hak asasi manusia, entah yang bersifat sosial atau budaya, berdasarkan jenis kelamin, suku, warna kulit, kondisi sosial, bahasa, atau agama, harus diatasi dan disingkirkan, karena bertentangan dengan rencana Sang Pencipta. Dengan demikian, munculnya seorang megalothymia jelas tidak hanya akan mengacaukan harmoni, tetapi bahkan menghancurkan; juga menghancurkan kesetaraan manusia itu.

Bila demikian yang terjadi, hancurlah demokrasi sebab demokrasi adalah perayaan perbedaan. Apakah dengan demikian lahirnya seorang megalothymia akan membahayakan demokrasi?

Sejarah mencatat bahwa di masa lalu, demokrasi di banyak negara sekarat di tangan orang-orang pemegang senjata, tentara. Selama era Perang Dingin, kudeta militer terjadi hampir di setiap tiga dari empat negara demokrasi. Demokrasi di Argentina, Brasil, Republik Dominika, Ghana, Yunani, Guatemala, Nigeria, Pakistan, Peru, Thailand, Turki, dan Uruguay, semuanya mati dengan cara yang sama, yakni karena tangan-tangan bersenjata.

Contoh yang paling mutakhir terjadi di Mesir pada 3 Juli 2013. Ketika itu, pemerintah hasil pemilu demokratis pertama di negeri itu di bawah kepemimpinan Presiden Mohammad Morsi, setelah Revolusi Musim Semi Arab, ditumbangkan oleh militer pimpinan Jenderal Abdel Fattah el-Sisi. Cerita yang hampir sama terjadi di Thailand. Pada tahun 2014, PM Thailand Yingluck Shinwatra disingkirkan militer. Dalam semua kasus tersebut di atas, demokrasi dihancurkan secara spektakuler, melalui kekuatan militer dan paksaan (Steven Levitsky & Daniel Zinblatt: 2018).

Ada cara lain lagi untuk menghancurkan demokrasi. Cara ini, menurut Steven Levitsky dan Daniel Zinblatt kurang dramatis tetapi sama hancurnya. Demokrasi mati tidak di tangan para jenderal tetapi di tangan para pemimpin yang dipilih secara demokratis. Misalnya, Adolf Hitler yang memenangi pemilu pada tahun 1932. Setelah berkuasa ia tidak hanya membunuh demokrasi, bahkan sekaligus menguburkannya. Dan, ia menjelma menjadi seorang diktator nan kejam.

Hal yang hampir sama terjadi di Venezuela. Hugo Chavez yang semula berjanji memulihkan demokrasi di Venezuela justru bertindak sebaliknya. Ia menjadi penguasa represif dan otoriter. Chavez menghapus masa jabatan presiden sehingga ia bisa terus berkuasa semaunya. Setelah Chavez mati, ia digantikan anak didiknya, Nicolas Maduro, yang merupakan fotokopi Chavez.

Jerusalem (Istimewa)

Pembunuhan demokrasi yang hampir sama dengan yang terjadi di Venezuela terjadi pula di Georgia, Hongaria, Nikaragua, Peru, Filipina, Polandia, Rusia, Sri Lanka, Turki, dan Ukraina. Apakah hal semacam itu bisa terjadi sekarang ini? Bisa!

”Maka itu,” kata Sang  Guru, ”tindakan apa pun yang dilakukan dalam angkara murka hanya akan membuahkan kegagalan.”

Dan, Sang Guru pun melanjutkan doanya: ”Tuhan, lindungilah keputusan-keputusan kami sebab membuat keputusan pun adalah sebentuk doa. Setelah susah payah bergulat dengan keraguan, beri kami keberanian untuk memilih antara satu jalan dan jalan lainnya. Biarlah kiranya, pilihan Ya tetap Ya, dan pilihan Tidak tetap Tidak. Setelah kami memilih jalan kami, kiranya kami tidak pernah menoleh lagi bagaikan seorang pembajak sawah, atau membiarkan jiwa kami digerogoti oleh rasa penyesalan yang tiada henti….”

”Kabulkanlah doa kami,” suara para murid berbarengan tanpa dikomando. (Artikel ini sudah tayang di Kompas.id, hari Senin (15/4/2019)