Didi Kempot (Foto: Istimewa)

Ketika berita tentang kematian Didi Kempot (53) Selasa (5/5) pagi beredar begitu cepat lewat media sosial dan televisi serta radio, banyak orang merasa kehilangan. Di tengah rasa kehilangan itu orang segera bersepakat: Didi Kempot, bukan hanya salah satu penyanyi tetapi entertainer terbaik di negeri ini.  

Sulit untuk dibantah bahwa Didi Kempot adalah tokoh, seniman yang menghidupkan, memberi semangat banyak orang—tak peduli tua-muda, anak-anak maupun orang dewasa, laki-laki maupun perempuan, pekerja maupun pengangguran, sipil maupun militer dan polisi, pejabat tinggi maupun pegawai rendahan, pendek kata siapa saja—di tengah gempuran pandemi Covid-19, juga gempuran budaya asing yang tidak kalah dahsyat. Pandemi yang membuat kehidupan dan dunia ini ambyar, hancur berantakan, bercerai berai.

Karena itu, sangat tepat yang dikatakan Romo Sindhunata, “Penyanyi campur sari bisa dadi fenomena tentang ambyare jaman. Virus corona niki jane rak nggih lakon ambyare ambyar. Sak agama agamane ambyar. Uripe Didi Kempot pungkasane nggih mung ambyar. Mulih dadi awu. Didi Kempot kados mboten mung ngramal jaman. Ning ngramal ambyare uripe dewe”; Penyanyi campur sari bisa menjadi fenomena hancur berantakannya zaman. Virus corona ini juga lakon tentang hancurnya zaman. Termasuk agama juga ambyar. Akhir hidup Didi Kempot pun ambyar. Kembali menjadi debu. Didi Kempot rasanya tidak hanya meramal zaman. Tetapi meramal hidupnya sendiri.

Dalam setiap pentas, Didi Kempot selalu dengan suara lantang mengatakan, “Wong Jawa aja lali jawane.”  Apa yang diteriakkan Didi Kempot adalah sebuah tidak hanya ajakan tetapi peringatan keras agar kita—apakah itu Jawa, Sunda, Batak, Manado, Bugis, Dayak, Bali, Papua,  Ambon, Sasak, Aceh, dan semua suku di negeri ini—tidak melupakan bahkan meninggalkan budaya asli, budaya sendiri. Kalau bangsa ini, telah melupakan budaya adiluhung yang lahir dan hidup di negeri ini, dan memeluk, memuja-muja budaya lain, maka negeri ini akan ambyar.

Kiranya Didi Kempot melihat tanda-tanda ambyar-nya bangsa ini yang pelan-pelan tetapi pasti karena banyak yang sudah mulai meninggalkan budaya sendiri. Lagu Ambyar, tidak hanya cerita tentang sakit hatinya Didi Kempot yang diingkari janji oleh kekasih hatinya. Tetapi, ambyar-nya hati Didi Kempot melihat perkembangan zaman.

Ambyar-nya budaya bangsa bisa terjadi seperti ambyar-nya dunia saat ini karena Pandemi Covid-19. Tidak bisa disangkal bahwa pandemi Covid-19 yang menyerang dunia saat ini telah mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia: keluarga, pendidikan, pekerjaan, bisnis, hubungan antar-manusia, gaya hidup, pemerintahan, lingkungan hidup, dan bahkan kehidupan dalam beragama.

Adakah yang menduga bahwa hal itu terjadi pada tahun ini? Kiranya, tidak. Sama halnya, adakah yang menduga bahwa Didi Kempot meninggal pada hari Selasa (5/5) di saat sedang memuncak karirnya sebagai penyanyi dan entertainer? Tidak. Itulah kuasa kematian. Mata kematian selalu mengintai kita setiap saat. Bahkan, sejak lahir, kita selalu sudah menuju kematian. Karena itu, pemikir dan filsof asal Jerman yang dipandang sebagai filsof paling penting abad 20, Martin Heidegger (1889-1976), memahami manusia sebagai mahluk yang berada menuju kematian (Sein zum Tode). Setiap detiknya, sejak kita lahir, sebenarnya, kita sudah selalu sekarat.

Tidak mengherankan kalau kemudian, kematian itu mencemaskan juga menakutkan. Apalagi sekarang ini, di tengah merajalelanya pandemi Covid-19, yang dengan sesuka hati mendatangkan kematian, di mana-mana di seluruh pelosok dunia. Tetapi bagi Jalaluddin Rumi, seorang filsuf dan mistikus Muslim yang demikian kondang (1207-1273), kematian adalah jembatan yang menghubungkan orang yang mencintai dengan yang dicintainya. Dalam bahasa lain, St Teresa dari Avilla (1515-1582) mengatakan,  “Aku ingin melihat Tuhan, dan untuk melihat-Nya, aku harus mati.”

Kematian adalah titik akhir perjalanan hidup manusia di dunia. Titik akhir dari masa rahmat dan masuk dalam kehidupan yang terakhir. Kematian adalah akhir dari perziarahan menusia di dunia. Meskipun kematian itu akhir perjalanan, namun bagi Rumi kematian itu lebih manis dibanding kehidupan sendiri. “Selama aku bersama-Mu, kematian bahkan lebih manis dibandingkan dengan kehidupan itu sendiri,” kata Rumi.

Karena itu, Rumi masih melanjutkan, “Ketika kami mati, jangan mencari makam kami di bawah tanah. Kalian bisa menemukan kami di dalam hati-hati yang penuh dengan cinta.”

Kiranya, kehidupan Didi Kempot pun ada dalam hati tidak hanya para penggemarnya yang menobatkan dia sebagai “Godfather of Broken Heart’’,  atau “Lord Didi” atau “Bapak Loro Ati Nasional,” tetapi siapa saja yang mencintai budaya asli negeri ini, budaya bangsa Indonesia. Lagu-lagu Didi Kempot—Ambyar, Cidro, Banyu Langit, Suket Teki, Pamer Bojo, Layang Kangen, Sewu Kutho dan lain-lainnya—cenderung nelangsa, sedih.

Akan tetapi, lagu-lagunya itu disukai banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat, karena merasa terwakilkan kegundahan hatinya di zaman ini. Gundah karena pandemi Covid-19, juga sebelumnya gundah karena invasi budaya asing yang semakin menjadi-jadi; yang cepat atau lambat kalau dibiarkan saja akan menggusur, mengubur budaya bangsa yang sangat beragam ini.

Keragaman budaya di negeri ini  adalah keniscayaan. Artinya keragaman budaya itu tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Di dalamnya, terkandung nilai-nilai luhur antara lain gotong-royong, setia kawan, harmoni, toleran, guyup dan rukun, tenggang rasa, ramah, jujur, kebenaran, kebersamaan, dan kreatif.

Dan, perjalanan hidup Didi Kempot adalah perjalanan kreativitas, kejujuran, toleransi, kesetiakawanan, kebersamaan, dan keramahan. Maka itu, kematiannya pun akan membuat duka banyak orang dari mana-mana, baik yang tinggal di pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, maupun perkotaan.

Tetapi, seperti kata Steve Jobs, kematian membuka peluang bagi yang baru untuk berkembang, dan yang lama untuk pergi. Kematian memastikan, bahwa roda dunia tetap berputar agar tidak ambyar. Requiescat in pace; semoga beristirahat dalam damai. ***