Ilustrasi: Istimewa

Guru masuk ke pendopo, langsung duduk. Dan, tidak seperti biasanya, Guru langsung berbicara:

Dulu, lebih dari lima puluh tahun silam, hiburan paling menyenangkan bagi kami yang tinggal dan hidup di desa adalah menonton layar tancap dan sulap. Yang menggelar layar tancap biasanya departemen penerangan dan pabrik jamu. Kami, anak-anak sangat senang kalau film yang diputar adalah film perang, atau kartun. Saat film diputar berbagai komentar dan teriakan terdengar. Sungguh itu hiburan yang murah, meriah, dan benar-benar menyenangkan.

Ada dua tukang sulap yang sering datang ke desa. Mereka biasanya, bermain di halaman gedung sekolah dasar negeri yang kebetulan persis di samping rumah orangtuaku dulu. Kedua tukang sulap itu—tidak pernah datang dan pentas bersamaan, mereka seperti sudah saling janjian untuk bergantian datang ke desa saya—biasanya datang ke desa sore, menjelang maghrib.

“Tukang sulap…tukang sulap…sulap…” teriak anak-anak begitu lihat Pak Gatot, begitu nama salah seorang tukang sulap itu datang.

Pak Gatot ini unik. Ia mengendarai sepeda yang hanya memiliki satu roda. Zaman segitu, orang terutama anak-anak sangat kagum, melihat sepeda beroda satu. Sementara, asistennya mengendarai sepeda biasa, normal, dan membawa segala macam perlengkapan untuk main sulap termasuk tambur, genderang. Ketika akan memulai main sulap, asisten akan menabuh tambur itu terus bertalu-talu…deng..deng…deng..deng…dengdengdeng…Itu tanda memanggil penonton.

Sosok Pak Gatot, tidak begitu tinggi, tetapi badannya kekar, berotot. Ia selalu mengenakan baret hitam. Konon nama lengkapnya Gatot Lelono. Bernama “Lelono” barangkali karena selalu pergi ke mana-mana. Ia murah senyum. Berwajah ramah. Ya, karena penghibur, tukang sulap.

Tukang sulap satunya bernama Arjo Menggolo. Ciri khas Pak Arjo Menggolo adalah ular sawah atau sanca atau piton besar. Ular itu disimpan di dalam kotak. Ketika mulai beratraksi Pak Arjo akan mengeluarkan ular itu dan dikalungkan pada lehernya. Lalu bermain sulap.

Manusia sangat bahagia kalau bisa mengalahkan ular. Dengan mengalahkan ular yang dianggap sebagai simbol kejahatan sekaligus kelicikan, seakan manusia dapat merebut kembali firdausnya yang hilang, setelah tragedi buah terlarang. Sekalipun dianggap simbol kejahatan dan kelicikan, namun ada nasihat yang berbunyi demikian,  “hendaknya kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Apakah Pak Arjo, cerdik? Ya, ia cerdik: berjualan obat sambil main sulap.

Ada kesamaan dari kedua tukang sulap itu: sama-sama jual obat. Main sulap hanyalah sebagai selingan untuk menarik penonton dan agar membeli obatnya. Berbagai macam obat, dijualnya: dari obat kurap sampai obat kuat, dari obat batuk sampai obat cacing. Tetapi kami anak-anak, tak peduli dengan obat yang mereka jual, kami hanya menikmati sulapan.

Kami semua, anak-anak, kagum melihat si tukang sulap beraksi. Mereka bagaikan dewa atau ya sekurang-kurangnya setengah dewa. Jadi manusia setengah dewa. Karena mereka mampu mewujudkan semua yang mereka inginkan. Misalnya, mengubah bola kasti menjadi tikus. Hanya dengan mengucapkan kata simsalabim…bola kasti yang dimasukkan ke dalam topi tiba-tiba berubah menjadi tikus. Kami tepuk tangan….

Mereka bisa menyambung tali yang terpotong-potong menjadi panjang kembali; , menarik pita panjang yang keluar dari mulutnya; membuat sebutir batu bisa terbang; mengubah sebatang tongkat menjadi bunga; naik sepeda roda satu dengan mata tertutup meliuk-liuk di antara kursi-kursi yang dijajar dan tidak menabrak. Masih banyak lagi atraksi lain yang membuat terkagum-kagum semua orang yang melihatnya, tidak hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Tidak ada seorang pun penonton yang protes terhadap apa yang dilakukan Pak Gatot atau Pak Arjo. Seolah-olah apa yang dilihat adalah suatu kebenaran dalam kenyataan di depan matanya. Semua orang melongo, berdecak kagum, simpatik, heran, takjub, terpukau, dan bertepuk tangan tanpa dikomando setiap atraksi selesai dimainkan.

Padahal semua permainan itu adalah trik, yang biasanya dihasilkan dari kecepatan tangan, manipulasi pikiran, dan efek-efek dari benda yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Tetapi, kami dulu tidak tahu semua itu.

Mengapa penonton tidak protes? Mengapa penonton percaya pada permainan sulapnya? Mengapa penonton percaya pada omongannya—akan mengubah sepotong sapu tangan menjadi burung—dan karena itu mau menunggu berlama-lama sampai janjinya itu menjadi kenyataan?

Janji adalah api harapan bagi siapa saja. Maka penonton percaya pada omongan Pak Gatot atau Pak Arjo. Penonton tahu bahwa Pak Gatot atau Pak Arjo tidak akan mengingkari janjinya. Tukang sulap, seperti kedua tukang sulap itu, bukan model orang yang suka mengingkari janjinya. Meskipun, ia menjanjikan sesuatu yang mustahil—menyulap sepotong saputangan menjadi burung—misalnya. Seorang tukang sulap bermain sulap bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain, untuk para penonton. Ia menghibur.

Ilustrasi: Istimewa

Inilah politik tukang sulap. Sulap adalah sebuah seni, sama dengan politik. Tetapi, sulap adalah  the art of impossible, sementara politik the art of possible, begitu kata Otto von Bismarck 1815-1898) Perdana Menteri Prusia (1862-1873; 1873-1890) dan pendiri serta kanselir pertama (1871-1890) Kekaisaran Jerman. Meskipun menurut  Vaclav Havel, Presiden Czechoslovakia setelah jatuhnya rezim komunis, politik juga the art of impossible.  Ini berdasarkan pengalamannya meruntuhkan rezim komunis di negerinya.

Karena politik adalah the art of possible, maka semua mungkin. Yang sekarang lawan, besok jadi kawan, besoknya lagi jadi kongsian, bersekutu; sebaliknya, yang sekarang kawan, besok jadi lawan, dan besoknya lagi jadi musuh bebuyutan yang karena saking bencinya, sudah telanjut sakit hati diibaratkan dalam peribahasa Jawa,  dadi godhong emoh nyuwek, dadi banyu emoh nyawuk, jadi daun nggak sudi menyobek, jadi air tidak mau menciduk.

Tetapi, yang sudah benci kepati-pati (sangat benci, sampai ke tulang sungsum) itu, suatu ketika bisa berubah lagi menjadi berkawan, dan bahkan berkongsi. Begitulah dunia politik: tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan, seperti dikatakan oleh Lord Palmerston (1784-1865) seorang negarawan Inggris. Semua bisa diatur, begitu kata Adam Malik dulu.

Kepentingan adalah kata kuncinya. Kepentingan politik yang luhur adalah menciptakan kemaslahatan bersama, kemakmuran bersama. Inilah kepentingan politik nasional. Tentu hal itu berbeda dengan politik kepentingan. Dalam politik kepentingan, politik hanya dipahami sebagai alat, sarana, kendaraan untuk mewujudkan, merealisasikan kepentingan. Kepentingan siapa? Bisa individu, per orangan, bisa kelompok, bisa golongan, bisa apa saja.

Inilah bedanya antara “seni” dalam sulap, dan “seni” dalam politik. Seni dalam sulap benar-benar menghibur. Sulap adalah seni pertunjukan yang dapat membuat penonton terheran-heran, terkagum-kagum, terpesona, dan penasaran bagaimana bisa terjadi seperti itu. Ada yang mengatakan, sulap merupakan suatu gabungan dari berbagai seni yang ada, seperti seni tari, seni musik, seni rupa. Sulap juga merupakan penerapan dari gabungan berbagai disiplin ilmu yang ada, seperti ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu kimia, ilmu psikologi, dan lain-lain.  

Sementara seni dalam politik bisa menghancurkan jika jatuh ke tangan yang salah. Karena kecenderungan alami politik adalah menjadi politicking yang serba liar dan rakus, menghalalkan segala cara, segala usaha untuk mensukseskan tujuan dapat dibenarkan—meminjam istilah Niccolo Machavelli (1469-1527).

Menurut  kamus Machiavelli, dalam urusan politik, tidak ada tempat membicarakan masalah moral. Hanya satu hal yang penting: bagaimana meraih sukses dengan memegang kekuasaan. Karena itu, kata Bismarck “Jangan pernah mempercayai apa pun dalam politik sampai hal itu resmi diingkari.” Sementara tukang sulap, seperti Pak Gatot dan Pak Arjo, menggenapi janjinya, “menyulap tongkat menjadi bunga.”

Ilustrasi: Istimewa

Guru berhenti sejenak, setelah bicara panjang lebar tentang tukang sulap. Lalu, berkata:

Karena itu, rakyat seperti kita semua ini, lebih suka dan lebih senang melihat sulapan, ketimbang melihat panggung politik, seperti panggung sandiwara, yang dijejali aktor-aktor baru dan berlagak seperti politisi, mengobral janji sembari melemparkan kritikan-kritikan pedas dan nylekit. Dan, dengan mengatasnamakan demokrasi mengatakan akan membela yang lemah dan terpinggirkan, menyuarakan yang tidak mampu bersuara, serta meluruskan yang bengkok.

Tetapi, kalian semua harus ingat apa yang dikatakan oleh Charles de Gaulle (1890-1970) seorang negarawan, presiden Perancis (1958-1979), “Politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut bila rakyat mempercayainya.”

Rakyat lebih percaya tukang sulap seperti Pak Gatot dan Pak Arjo, karena menghibur. Meskipun dahulu, menurut sejarah Montesquie (1689-1755) filsuf politik Perancis pernah menyindir dan mengkritik Raja Perancis, Louis XIV dengan menjulukinya sebagai “tukang sulap” karena antara lain menyebabkan terjadinya pembodohan rakyat.

Setelah mengatakan itu, Guru  melihat kami semua, dan diam sesaat. Lalu berdiri dan berjalan keluar ke halaman, tidak seperti biasanya masuk ke kamar semedi. ***