Ilustrasi gambar: Istimewa

I

Setan, Satan, Iblis, Azazil, Beelzebub atau Beelzebub. Semua sama: “Raja Kegelapan.” Setan atau syetan yang dalam bahasa Ibrani disebut ha-Satan atau “sang penentang”, dalam bahasa Arab disebut Syaithom, “sesat atau jatuh.” Sebutan-sebutan itu biasanya merujuk pada Lucifer atau “Raja Kegelapan”—dalam kepercayaan Yahudi dan Kristen—atau Iblis pada kepercayaan Islam,

Ada yang mengatakan, dalam bahasa Indonesia, istilah Satan berbeda maknanya dengan setan. “Satan” (huruf besar) lebih condong pada sang Iblis (diabolos), sedangkan “setan” (huruf kecil) lebih condong kepada roh-roh jahat (daemon). Meskipun, pada akhirnya sama saja: mereka “kuasa kegelapan.”

Iblis atau Iblīs adalah julukan nenek moyang bangsa jin, yang memiliki nama asli Azazil. Dia-lah mahkluk pertama yang membangkang pada perintah Allah. Meski kemudian Lucifer dilempar ke bumi, tetapi dengan cara itu—menentang Allah—meraih kekuasaannya. Kekuasaan macam apa yang diraih Lucifer?

Dulu ada istilah “setan desa” dan “setan kota.” Di masa pilkada muncul istilah “biarlah uang iblis dimakan setan.” Karena saking putus asanya mengatasi korupsi, ada yang mengatakan, “kita harus minta bantuan iblis untuk memerangi setan korupsi.” Ada lagi istilah “lingkaran setan”, misalnya “lingkaran setan korupsi.” Mengapa? Karena terjadinya reproduksi korupsi dari generasi ke generasi, dari zaman ke zaman.  Ada istilah lain lagi “setan jahanam” atau juga “tangan-tangan setan.” Orang Jawa kenal istilah “setan ora doyan, demit ora ndulit.”

Di masa pemilu presiden tahun 2019 lalu, muncul istilah “Partai Allah” dan “Partai Setan.”  Ada lagi istilah “mandi uang setan.” Istilah tersebut disematkan oleh Khalil Roman, yang pernah menjabat sebagai Staf Presiden Hamid Karzai (2002-2005), Hamid Karzai  disebutnya menerima puluhan juta dollar uang dari CIA.

II

Patih Sengkuni dan Betara Kresna (Ilustrasi gambar: Istimewa)

Setan, iblis selalu dikaitkan dengan kekuatan kejahatan. Ia disebut sebagai pangeran dunia, penguasa kegelapan, pendusta, pendengki, si penyesat, si penggoda, Bapak segala Dosa, Si Penyesat dan sebagainya. Karena setan dan iblis pendusta, maka bisa saja mereka berdusta, memutar-balikkan fakta, menyebarkan berita bohong, hoaks, menebar berita menyesatkan.

Karena pendengki, maka mungkin saja mereka menebarkan kedengkian. Karena penyesat, tidak aneh kalau mereka menyebarkan kesesatan dengan pernyataan-pernyataan yang jauh dari kebenaran, yang membuat gaduh. Setan, iblis adalah sahabat dusta, kebohongan. Setan adalah dusta dan kebohongan itu sendiri. Mereka menjauhi kebenaran.

Maka terus terjadi pertempuran antara terang dan gelap, antara kuasa baik dan kuasa jahat yan halus, licin, dan berbahaya serta mematikan. Tetapi, iblis, setan tidak bekerja sendirian, melainkan menggunakan manusia sebagai alatnya.

Manusia yang menjadi alat iblis, setan adalah manusia-manusia yang mendewa-dewakan kegelapan; yang dirasuki oleh nafsu akan kekuasaan; yang dikuasai oleh rasa dengki dan iri; yang tidak bisa menerima kekalahan dengan legawa. Karena itu terus berusaha menebarkan penyesatan, kedengkian, kegelapan, kedustaan; yang kemaruk akan harta maka itu nekad korupsi.

Setan bisa merasuki manusia, bahkan sangat mudah. Maka muncullah “orang-orang yang kesetanan” dalam segala bidang kehidupan manusia, termasuk dalam bidang politik dan ekonomi, serta agama. Ketika seseorang kesetanan, maka dia tercermar sifat dan kualitas setan. Orang-orang yang hidupnya dikuasai nafsu itulah yang mudah tercemar sifat dan kualitas setan.

Padahal, orang beragama semestinya dalam dirinya mewarisi sifat dan kualitas Tuhan, bukan sifat dan kualitas setan. Maka John Kerry (dulu Menlu AS) pernah mengatakan, dunia tidak dapat membiarkan menyebarnya “setan” dari kelompok ISIS.  Memang, seluruh sejarah manusia sarat dengan perjuangan sengit melawan kekuatan kegelapan. 

III

Ilustrasi gambar: Istimewa

Di tengah perjuangan melawan kekuatan kegelapan itu—antara lain terorisme—eh, tiba-tiba ada yang usul agar Densus 88 dibubarkan. Bukankah dalam hal memerangi terorisme, Densus 88 ada di garda terdepan? Mengapa harus dibubarkan? Bukankan dunia—termasuk Indonesia—harus diselamatkan dari patologi terorisme. Dunia harus diselamatkan dari cengkeraman iblis, setan terorisme.

Lewat terorisme, manusia mampu membunuh sesamanya dengan kepala dan hati yang dingin. Terorisme adalah politik kematian. Bukan kematian yang menjadi tujuan di sini—melainkan ketakutan akan mati. Kuasa teroris menebarkan technology of fear, lewat dramatisasi kematian (Budi Hardiman, 2011).  Bunuh satu orang dan buatlah seribu orang ketakutan! Begitu kredo mereka.

Maka penemuan 35 kilogram bahan baku peledak jenis TATP (Triacetone Triperoxide, senyawa peroksida) yang dikenal dengan sebutan The Mother of Satan, di Desa Bantar Agung, Sindangwangi, di kaki Gunung Ciremai, Majalengka, Jawa Barat, oleh Densus 88 menjadi sesuatu yang sangat berarti. Dengan The Mother of Satan, Emaknya Setan ini, para teroris menebarkan ketakutan dan kematian. Dan, dengan menemukan The Mother of Satan itu, Densus 88 telah memutus sebagian dari alat penebar teror kematian.

Temuan itu berdasarkan pengakuan terduga teroris Imam Mulyana—narapidana teroris Jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang ditangkap pada tahun 2017. The Mother of Satan, Emaknya Setan  adalah bom kimia yang sangat berbahaya dan memiliki daya ledak tinggi (high explosive), dan menimbulkan efek korban jiwa banyak. Karena daya ledak dan efeknya yang dahsyat itulah, maka diberi nama The Mother of Satan. Bom jenis ini banyak digunakan oleh ISIS di Irak dan Suriah, karena daya hancurnya yang mematikan.

“Emaknya setan”, tidak hanya dalam bentuk bahan peledak saja, yang mampu menghancurkan badan wadak manusia. Tetapi, sebagaimana sifat setan dan iblis, yang memiliki kekuatan penghancur, maka “emaknya setan” pun mampu merusak nalar dan budi manusia.

Bila hasrat setan sudah terbentuk dalam tubuh manusia, maka orang akan kesetanan, misalnya dalam beragama (dalam pengertian fanatisme terhadap agama yang berlebihan); juga dalam politik menggunakan kekuatan setan untuk kepentingan diri, termasuk korupsi.

Seperti itulah yang terjadi, dari dulu hingga kini. Dokumen Persaudaraan Manusia di Abu Dhabi menyatakan, sedari dulu hingga saat ini, agama (religion) masih digunakan sebagai komoditas politik dan berbagai kepentingan lainnya yang terbukti dapat menjadi sarana destruktif dan menakutkan untuk mengobarkan pertikaian hingga berkembang menjadi perang saudara seperti terjadi di Suriah, Irak, India, dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah, Afrika, bahkan Eropa.

Kekuatan penghancur The Mother of Satan, Emaknya Setan, memang sangat dahsyat.***