Gambar: Istimewa

I
Hujan yang turun sejak sore, belum juga reda, malam itu. Kami berempat masih ngobrol: sutradara ketoprak Bondan Nusantara, kawan lama di koran Bernas Agus AWD, dan reporter Kompas TV Mika.

Namanya ngobrol, banyak yang kami obrolkan, mulai dari kopi hingga politik lokal dan nasional, dari membicarakan teman-teman lama hingga soal korupsi, dari seni-budaya tradisional hingga persaingan antar-para pelaku budaya, dari agama hingga kejawen, dan masih banyak yang lain.

Di tengah ngobrol kadang terdengar derit rumpun bambu yang merimbun di sebelah Kenari Guest House tempat kami ngobrol, dipermainkan angin. Di sebelah kiri Kenari Guest House mengalir Kali Boyong. Kami tidak tahu apakah kali itu banjir atau tidak. Kami hanya mendengar deru suara air.

Nama Kali Boyong, hanya digunakan oleh warga yang tinggal di wilayah Kabupaten Sleman. Sebab, ketika kali itu masuk wilayah Kota Yogyakarta, sebutannya menjadi Sungai Code. Kali ini menjadi salah satu kali yang menjadi jalur aliran lahar dingin dari Gunung Merapi.

Ada banyak cerita gaib yang hidup di tengah masyarakat berkait dengan Kali Boyong itu. Misalnya, ada yang mengatakan bahwa Kali Boyong menjadi lintasan lampor atau rombongan pasukan gaib dari Pantai Selatan menuju Gunug Mereka atau sebaliknya.

Di zaman disrupsi ini; di zaman yang disebut IR 4.0, tahapan Revolusi Industri didasarkan pada tingkat “otomatisasi”; di era ketika seluruh perusahaan sedang bergerak untuk transformasi digital ini; di saat orang mulai ramai bicara soal metaverse sekarang ini, dongeng semacam itu tetap hidup di tengah masyarakat.

Kadang memang terpikir hal seperti itu tidak masuk akal. Dunia ini, memang aneh. Penghuninya juga aneh. Sama halnya tidak masuk akalnya berbagai kenyataan yang ada di masyarakat saat ini. Pertanyaan Bondan mempertegas ketidak-masukalan atau mungkin keanehan dunia ini:

“Coba, siapa yang bisa menjelaskan, di negeri ini banyak tempat ibadah dibangun. Kegiatan keagamaan pun marak di mana-mana. Bahkan, kadang-kadang terasa berlebihan. Tetapi, mengapa virus korupsi masih juga merajalela. Mengapa kebencian kelompok satu terhadap kelompok lain masih juga hidup? Mengapa masih ada orang yang suka melemparkan ujaran kebencian, fitnah, hoaks, berita palsu dan sejenisnya. Mengapa intoleransi masih pula dihidup-hidupi?”

Agus AWD menyambung, “Wah, jos pertanyaan niku. Cen ndonya sak niki aeng-aeng, dunia sekarang ini aneh-aneh. Banyak yang nggak masuk akal.”

“Pertanyaanmu jelas Mas. Tetapi, tidak mudah menjawabnya. Apalagi jawaban yang memadai, yah katakanlah jawaban yang akan memuaskan sampeyan. Sebab, menurut saya, di balik pertanyaan itu ada tersembunyi realitas yang amat kompleks,” jawab saya.

Kata Bondan, “Saya malah tidak melihat realitas yang amat kompleks di balik pertayaan-pertanyaan saya itu. Atau mungkin, saya memang tidak mampu menangkap realitas kompleks itu. Sebab, saya hanya berusaha menangkap fenomena yang ada di masyarakat kita.”

Kata saya, “Mas, kok saya melihat sekurang-kurangnya, salah satu akar dari masalah itu adalah indikatif iman yang tampak dalam ibadah-ibadah belum melahirkan imperatif moral yang seharusnya terwujud dalam pola pikir dan perilaku yang mulia. Pendek kata banyak orang yang beragama tetapi tidak beriman.”

Ilustrasi gambar: Istimewa

II
“Saya hanya mengutip kata orang pandai yang tahu tentang agama. Katanya, iman lebih dari sekadar perayaan keagamaan dengan komunitas orang-orang yang berpikiran sama. Orang yang mengaku percaya kepada Allah, beriman, pasti mencintai kebenaran, mencintai kemanusiaan, mencintai persatuan dan kesatuan, juga menerima keberagaman atau kemajemukan karena itu adalah anugerah Ilahi,” kata saya.

“Sekali lagi, saya hanya mengutip omongan orang-orang pandai. Kata orang-orang pandai, orang yang beriman sejati maka hidup dan tindakannya akan diwarnai dan dimotivasi oleh imannya. Dalam hidup sehari-hari maka iman kita harus diwujudkan dalam setiap perkataan dan perbuatan baik.”

“Wah, maaf, jadi khotbah saya,” kata saya yang langsung disambut tawa mereka. Agus AWD mengatakan, “Pun dilanjut mawon, hitung-hitung khotbah Natal,” lalu tertawa lepas.

“Betul, Om…. ini khotbah Natal,” kata Mika yang juga lalu tertawa.

“Mas, bukankah kita tidak pernah bisa mengatakan bahwa saya mengasihi Tuhan dan mengabaikan tetangga saya. Dalam istilah praktis, saya pikir adil untuk mengatakan, kita dapat mengekspresikan gagasan persahabatan sosial ini melalui tindakan kebaikan kecil yang ditawarkan tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Ini mungkin interpretasi yang sederhana. Tetapi saya pikir, kita semua bisa setuju bahwa sedikit tindakan kebaikan bisa menjadi bintang yang bersinar bagi mereka yang berada dalam kegelapan.”

“Wah, penjelasan sampeyan elok, Mas,” komentar Bondan.

“Ah, saya kan hanya mengutip pendapat wong-wong pinter. Kalau saya sendiri sih, tidak tahu,” kata saya. Kami berempat pun tertawa.

“Sebagai manusia, kita menghabiskan setiap hari berenang dalam lautan omong kosong, separuh kebenaran, dan pemalsuan. Kita berbohong, dan kita dibohongi. Kehidupan sosial kita bergantung pada sungai kebohongan putih kecil yang terus mengalir. Kita sangat menyukai dusta yang dibuat dengan sangat baik.”

“Itu bukan pendapat saya, tapi pendapat Tom Phillips dalam bukunya Truth, A Brief History of Total Bullshit (2019),” kata saya.

Tom Phillips lalu bertanya, apakah memang ketidakjujuran terprogram dalam manusia, dan masyarakat? Apakah manusia adalah satu-satunya mahkluk ciptaan yang berbohong (bahkan menyukai kebohongan)?

Ilustrasi gambar: Istimewa

III
Tentu pandemi Covid-19 yang menyapu dunia, termasuk Indonesia sejak hampir dua tahun silam, bukanlah sebuah kebohongan. Bukan omong kosong. Suatu kenyataan.

Hingga 22 Desember 2021, menurut WHO, tercatat 275.233.892 orang terkonfirmasi kena Covid-19, termasuk 5.364.996 orang meninggal. Khusus Indonesia, sejak 3 Januari 2020 hingga 22 Desember 2021, ada 4.261.072 kasus terkofirmasi, dengan 144.034 orang meninggal.

Kebenaran itu, memang, menyedihkan. Kebenaran itu membuat frustasi banyak orang, karena kehilangan suami, istri, anak, sanak-saudara, sahabat, pekerjaan, kebebasan, dan banyak hal lain lagi yang dinikmati, yang dimiliki sebelum pandemi.

Meski dunia kita sekarang ini semakin menakutkan dan menggetarkan–karena adanya pandemi, penuh kebohongan, kemunafikan, tipu-daya, intoleransi, dan berbagai persoalan lainnya–namun dunia ini tetap bukan merupakan sesuatu yang harus ditinggal lari. Dunia justru harus semakin digeluti semakin dalam.

Bagi umat Kristiani keterlibatannya semakin dalam dengan dunia itu mengikuti contoh apa yang dilakukan Allah yang meninggalkan surga mulia masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan manusia. Peristiwa inkarnasi inilah yang diperingati pada hari Raya Natal. Natal mengingatakan, bagaimana Allah memasuki sejarah manusia melalui pribadi Yesus yang lahir di Betlehem dan berpartisipasi dalam dunia saat Ia menemukannya.

Peristiwa inkarnasi ini menunjukkan bahwa Tuhan memiliki lebih dari sekadar minat yang lewat dalam kesejahteraan kita; Ia mengungkapkan kasih Allah bagi kita. Meskipun jelas bahwa kelahiran Yesus tidak mengusir kejahatan dari dunia, tetapi bagaimanpun membawa, harapan di luar semua pemahaman manusia.

Harapan ini, yang membentuk cara kita menjalani hidup kita dengan tetap memegang teguh prinsip utama semua adalah saudara dan saudari yang berbagi rumah bersama, di mana tidak ada yang dikecualikan dan semua orang bekerja untuk kebaikan bersama.

Kata Paus Fransiskus dalam ensiklik (2020) Fratelli Tutti, Kita Semua Bersaudara, hidup dengan cara ini akan membangun kembali dunia kita yang terluka. Dalam situasi seperti ini, kita harus menyadari bahwa kita berada dalam satu perahu. Kita mengupayakan keselamatan sebagai satu persaudaraaan, bukan sebagai individu. Indah rasanya bersolider sebagai saudara. Pandemi korona membuka topeng egoisme, dan menyingkap kenyataan bahwa kita telah mengabaikan harta bersama yang paling berharga, yaitu menjadi saudara satu sama lain

Tak terasa, kami ngobrol sampai malam. Pukul 24.00, kami mengakiri obrolan di malam hujan itu. Banyak yang kami obrolkan, karena kami sudah lama tak bertemu, ditambah karena pandemi Covid-19. Sehingga malam itu, kami seperti menumpahkan rasa kangen persahabatan kami.

Selamat Natal 2021 dan Selamat Tahun Baru 2022.***