Ilustrasi gambar: Istimewa

I
Seorang kawan, Mas Mar, begitu saya biasa menyapa, menempelkan tulisan menarik di status fb-nya.

Tulisan–atau mungkin lebih tepatnya ungkapan hati Mas Mar–pendek. Tapi, sungguh mendalem. Begitu istilahnya.

Mas Mar menulis begini: “Aneh ya, saat ribut Wadas pada share. Tapi pas ada upaya damai kok malah diem.”

Saya tidak tahu persis, siapa yang disebut “pada share” dan “malah diem.” Siapa yang disindir–entah benar atau salah, istilah saya ini, “disindir”–oleh Mas Mar. Mediakah? Kalau media yang disindir, bukankah Mas Mar juga orang media. Apakah dia menyindir dirinya sendiri, semacam autokritik? Hebat, kalau begitu. Saya harus angkat baret (karena saya senang pakai baret) dan acungan jempol.

Kalau tidak mengritik dirinya sendiri, lalu, media apa yang mau disenggolnya? Sekarang ini, media itu banyak jenis “kelaminnya.” Ada media mainstream (media arus utama). Ada media sosial. Sementara sahabat saya, Agus Sudibyo menyebutnya, sekarang ini media mainstream–dalam konteks lingkaran sistem digitalisasi–bukan lagi media cetak, radio, dan televisi melainkan trilogi new media, yakni search engine, media sosial, dan ecommerce.

Ah, apapun jenis kelaminnya, semestinya media itu mengusung mission sacre, misi suci. Tampaknya sederhana, tugas sucinya itu. Semua orang tahu. Tugas utama media adalah menyampaikan informasi. Persoalannya adalah informasi yang seperti apa, yang bagaimana? Informasi yang obyektif, yang akurat, yang mencerdaskan, mencerahkan, yang proper kepada masyarakat.

Ternyata, tidak mudah melaksanakan tugas suci tersebut. Seperti disebut oleh Mas Mar, media—apapun kelaminnya: “Saat  ribut Wadas pada share, tapi pas ada upaya damai kok malah diem.” Saat ribut, langit berita makin ramai karena ditambah berbagai komentar dari para tokoh atau mereka yang merasa sudah menjadi tokoh, orang-orang partai, juga para cerdik-pandai.

Ilustrasi gambar: Istimewa

II

Benar jadinya pernyataan Presiden Jokowi pada Hari Pers Nasional yang baru lalu, bahwa banyak sumber informasi alternatif yang mengejar klik atau viewers, mengejar viral, yang menyesatkan bahkan adu domba, sehingga menimbulkan kebingungan dan bahkan perpecahan. Pernyataan Presiden itu, memang tidak berkait langsung pada kasus Wadas, tetapi itulah yang umumnya terjadi sekarang ini.

Akurasi fakta adalah problem utama media sosial (juga media arus utama)—sebagaimana banyak dibincangkan secara akademis. Tetapi, media sosial (mungkin juga media arus utama?) justru kini menjadi kanal rasa frustasi sebagian orang. Juga menjadi sarana untuk melampiaskan sikap oposisi terhadap pemerintah dalam segala hal; menyampaikan pendapat yang “pokoknya” berbeda.

Memang, kemampuan untuk memelintir kebenaran merupakan fenomena yang melekat pada kemanusiaan kita, baik pribadi maupun masyarakat. Tetapi, apakah fenomena semacam itu akan dibiarkan menjadi liar? Bila dibiarkan tak pelak lagi akan menimbulkan perpecahan sosial, menciptakan spiral kebencian.

Yang kita butuhkan sekarang ini—terutama untuk menyelesaikan krisis Wadas, dan mungkin krisis-krisis sosial lainnya—adalah jurnalisme yang baik dan bebas yang melayani semua orang, terutama mereka yang tidak mampu menyampaikan aspirasinya: jurnalisme yang didedikasikan untuk mencari kebenaran dan yang membuka jalan menuju persekutuan dan perdamaian.

Media semestinya menjadi penangkal mulai dari misinformasi yang berbahaya hingga teori konspirasi liar. Tugas pers, media adalah  menyampaikan berita dan analisis yang diverifikasi, ilmiah, dan berdasarkan fakta.

Saya akan mengakiri unek-unek ini—sekaligus melanjutkan postingan Mas Mar—dengan mengutip pendapat Paus Fransiskus (2018) tentang jurnalisme perdamaian, yang semestinya sekarang ini diwujudkan bersama-sama, oleh siapa saja yang secara pribadi, amatiran atau professional, menyebarkan informasi. Kata Paus, jurnalisme perdamaian tidak dimaksudkan sebagai jurnalisme “pemanis rasa” yang menolak mengakui adanya masalah-masalah serius atau jurnalisme yang bernada sentimentalisme. Sebaliknya, jurnalisme perdamaian adalah suatu jurnalisme yang jujur ​​dan menentang kepalsuan, slogan-slogan retoris, dan pokok berita yang sensasional.

Jurnalisme perdamaian, diciptakan oleh masyarakat untuk masyarakat, yang melayani semua orang, terutama mereka—dan mereka adalah mayoritas di tengah dunia kita—mereka yang tidak bersuara. Sebuah jurnalisme yang tidak terpusat pada breaking news (berita sela) tetapi menelisik sebab-sebab yang mendasari konflik, guna memajukan pemahaman yang lebih mendalam dan memberi sumbangan bagi jalan keluar dengan memulai suatu proses yang baik. Sebuah jurnalisme yang berkomitmen untuk menunjukkan beragam alternatif penyelesaian terhadap meningkatnya keributan dan kekerasan verbal.

Jadi, tugas suci media, semestinya adalah ramai-ramai mendorong dan mengusahakan penyelesaian damai, adil, dan berkemanusiaan terhadap krisis Wadas. Tidak diem, seperti kata Mas Mar. ***