Ilustrasi gambar: Istimewa

Suatu hari, saya bertanya pada seorang sahabat dari Solo, Frans Sartono. Dia seorang wartawan budaya  yang hebat, terutama musik. Kalau soal permusikan, saya selalu bertanya padanya. Tapi, kali ini saya bertanya soal makanan.

“Pakde,” begitu kami biasa saling menyapa, “mengapa  warung sate Solo kok board-nya kebanyakan bertuliskan ‘Sate Solo Pak Min?’ Apa di Solo yang terkenal paling enak satenya Pak Min? Top banget, ya Pakde, di mana-mana ada ‘Sate Solo Pak Min.’ Apakah franchise, ya?”

“Apa Pakde mau franchise atau mau nraktir saya?”  Dia balik bertanya. Kami berdua tertawa. “Ayo…” kata saya.

Kami pun lalu ngobrol soal sate; dunia persatean. Ada macam-macam jenis sate: sate madura, sate tegal, sate klathak, sate buntel, sate padang, sate maranggi, sate ambal, sate lilit, sate ponorogo, sate lalat, sate taichan, sate makassar, sate banyar, sate bandeng, sate blora, dan sate kere. Mungkin masih ada lagi sate yang lain.

“Mengapa ya kok namanya sate kere, Pakde?”  tanya saya. Saya yakin, Pakde Frans tidak menduga bahwa saya akan menanyakan soal sate kere.

“Kalau dalam cerita silat To Liong To (Golok Pembunuh Naga) ada Partai Kay Pang (Partai Pengemis). Beda ya pengemis dan kere, Pakde?, tanya saya pada,

 Pakde Frans.

“Benten mbokmenawi, Pakde, Tapi, pengemis juga sering disebut kere,” jawabnya, sambil tertawa. Mungkin berbeda.

Ilustrasi foto: Istimewa


II
Lalu saya cerita, bahwa sebenarnya, saya lebih suka tongseng dibanding sate. Tetapi, itu dulu. Sekarang sih sudah nggak pernah makan lagi. Entah  tahun berapa, saya terakhir makan tongseng.

Saya suka tongseng lidah. Menurut saya, sangat enak. Tapi, mungkin orang lain akan mengatakan tongseng buntut  lebih enak. Yang lain mengatakan tongseng kepala; yang lain lagi suka tongseng daging. Ada juga yang sangat demen tongseng jerohan.

Boleh-boleh saja berbeda. Bukankah soal selera ada pepatah yang berbunyi De gustibus non est disputandum, soal selera tidak bisa diperdebatkan. Ya, nggak papa, berbeda-beda. Demokrasi, kata orang politik. Berbeda untuk bersatu; bersepakat untuk tidak sepakat. Kalau berbeda saja sudah tidak boleh, maka matilah itu demokrasi. Kata Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt (2018), norma fundamental demokrasi adalah saling toleransi dan sikap menahan diri secara kelembagaan.

Kata dua orang pinter itu, kala norma saling toleransi lemah, demokrasi sukar dipelihara. Bila kita memandang pesaing sebagai musuh, sebagai ancaman berbahaya, maka kita jadi takut mereka menang. Boleh jadi lantas kita memutuskan untuk menggunakan segala cara untuk mengalahkan mereka—sehingga membenarkan cara-cara otoriter

Pakde Frans sempat bertanya, “Apakah karena lidah tak bertulang sehingga Pakde suka tongseng lidah?” Memang lidah tak bertulang

Lidah tak bertulang itu bunyi peribahasa, yang menurut guru bahasa Indonesia saya dulu waktu SMP berarti manusia sangat mudah untuk berbohong/mengumbar janji atau berbicara seseorang itu tidak bisa dipegang. Semacam janji politik gitu atau janji seorang pemuda pada gadis pujaannya.

Kata orang, meskipun lidah tak bertulang, dapat mematahkan hati. Bahkan Robert Greene, penulis buku dari AS,  mengatakan, lidah manusia adalah binatang yang hanya sedikit dikuasai.

Karena itu, ada nasihat “jagalah lisan”-mu. Orang-orang tua (Jawa) mengatakan, ajining diri saka lathi, seseorang dapat dihargai dan dihormati berdasarkan ucapannya atau perkataannya. Nasihat ini tidak hanya berlaku bagi orang Jawa, tetapi universal, umum, berlaku untuk semua orang.

Sekarang ini, banyak yang tak mampu “menjaga lisannya.” Ada orang yang dengan mudah mengucapkan ujaran-ujaran kebencian. Ada lagi yang hobi membiarkan lidahnya membuat gaduh dengan melemparkan pernyataan-pernyataan yang provokatif juga kontroversial.

Yang lain lagi memilih menekuni profesi sebagai kritikus. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan seleranya dikritik habis-habisan, dikatakan nggak mutu, disebut sebagai produk orang bodoh dan dungu. Juga kalau tidak sesuai dengan yang “menghidupi” pasti akan dikritik nggak karu-karuan, dengan mengatakan atas nama kebebasan mengemukakan pendapat.

Ada lagi, orang menduduki posisi terpandang, terhormat tetapi tidak mampu “menjaga lisannya.” Kalau ajining diri saka lathi, maka orang seperti itu ora ana ajine, nggak pantas dihormati, walau menduduki posisi terhormat.

Ilustrasi foto lidah: Istimewa

III

Lidah memang dahsyat. Kata Bunda Teresa dari Kalkuta, kekerasan lidah sangat nyata, lebih tajam dari pisau manapun. Lidah dapat ditajamkan seperti pedang. Lidah dapat dikatakan baik atau jahat; terpelajar atau pintar. Maka itu ada yang mengatakan bahwa kejahatan dapat disembunyikan di bawah lidah, tetapi kebenaran terpancar di mata. Tetapi, lidah yang tenang dapat menjadi pohon kehidupan.

Memang ada kekuatan dahsyat yang dimiliki lidah. Maka perlu  untuk sangat berhati-hati dalam menggunakan lidah. Sebab, kegagalan mengekang lidah dapat menyebabkan ibadat seseorang menjadi sia-sia. Karena yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang tidak menjejukkan hati. Lidah yang tidak dikekang dapat dipengaruhi oleh kekuatan yang bersifat merusak dan dapat mengakibatkan begitu banyak ketidakadilbenaran atau begitu luas jangkauannya sehingga bisa mencemari seluruh kehidupan orang itu.

Ada tertulis, semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia. Tetapi, tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh dengan racun yang mematikan. Karena itu, kita juga sering mendengar peribahasa “mulut satu lidah bertopang”,  yang berarti perkataan berbeda dengan isi hati.

“Wah, maaf Pakde, saya kok jadi ngelantur bicara macam-macam,” kata saya

.“Nggak papa, Pakde. Kita ngobrol, mengumbar lidah untuk ngomong banyak hal. Dan, kita kan tidak ngomongin keburukan orang lain,” katanya.

“Ayo, jadi cari sate Pak Min? Saya tak makan tongseng lidah saja, biar saya makin fasih berbicara, kan lidah tak bertulang. Memang lidah tak bertulang, tak berbekas kata-kata, Tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati……”  

“Wah, Bob Tutupoly, ya Pakde,” kata Pakde Frans. Kami tertawa, lalu mendendangkan lagu itu.***